Suatu siang yang
terik di kompleks pertokoan yang padat, saya mengantar teman saya yang
kebetulan belanja untuk keperluan usahanya. Karena toko yang dituju
pengunjungnya banyak, maka saya memutuskan untuk menunggu di dalam mobil.
Kemudian lewat petugas kebersihan (tak resmi) yang sedang mengerjakan tugasnya.
Dalam mobil saya mengamatinya,dengan wajah berseri-seri tukang sampah tersebut
memasukkan sampah-sampah kedalam keranjang sampahnya yang kemudian dimasukkan ke
dalam gerobak sampahnya. Tanpa alas kaki dan baju yang kotor dia berjalan dari
satu toko ke toko lain dan dengan setia mengayuh gerobaknya yang kotor itu.
Saya berkata
dalam hati andai saya bertukar posisi dengan dia, auh tidak. Tak bisa saya
bayangkan bila saya harus memakai baju kotor yang entah sudah berapa lama tidak
cuci dan masih bercampur dengan keringat. Ah betapa gatalnya tubuh saya, belum
lagi kaki saya harus melewati jalan yang terbakar dan siap untuk melepuhkan kulit kita.
Allah maafkan
saya, yang sering kali lupa untuk bersyukur. Masih saja saya mengeluh, kurang
begini kurang begitu. Padahal sudah banyak kenikmatan yang sudah saya rasakan.
Seketika itu juga saya menangis tersedu-sedu mengingat semua kenikmatan yang
sudah saya lalaikan.
Sehari ada berapa kali kita mengeluh? Selalu merasa keadaan tak pernah berpihak pada kita. Seharusnya kita malu dengan Tukang sampah itu walaupun pekerjaannya kurang layak tapi dia menikmatinya mensyukurinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar