Jumat, 01 Februari 2013

Tukang Sampah

Suatu siang yang terik di kompleks pertokoan yang padat, saya mengantar teman saya yang kebetulan belanja untuk keperluan usahanya. Karena toko yang dituju pengunjungnya banyak, maka saya memutuskan untuk menunggu di dalam mobil. Kemudian lewat petugas kebersihan (tak resmi) yang sedang mengerjakan tugasnya. Dalam mobil saya mengamatinya,dengan wajah berseri-seri tukang sampah tersebut memasukkan sampah-sampah kedalam keranjang sampahnya yang kemudian dimasukkan ke dalam gerobak sampahnya. Tanpa alas kaki dan baju yang kotor dia berjalan dari satu toko ke toko lain dan dengan setia mengayuh gerobaknya yang kotor itu.
Saya berkata dalam hati andai saya bertukar posisi dengan dia, auh tidak. Tak bisa saya bayangkan bila saya harus memakai baju kotor yang entah sudah berapa lama tidak cuci dan masih bercampur dengan keringat. Ah betapa gatalnya tubuh saya, belum lagi kaki saya harus melewati jalan yang terbakar dan siap untuk melepuhkan kulit kita.
Allah maafkan saya, yang sering kali lupa untuk bersyukur. Masih saja saya mengeluh, kurang begini kurang begitu. Padahal sudah banyak kenikmatan yang sudah saya rasakan. Seketika itu juga saya menangis tersedu-sedu mengingat semua kenikmatan yang sudah saya lalaikan. 
Sehari ada berapa kali kita mengeluh? Selalu merasa keadaan tak pernah berpihak pada kita. Seharusnya kita malu dengan Tukang sampah itu walaupun pekerjaannya kurang layak tapi dia menikmatinya mensyukurinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar